Detail Berita

Sejarah Desa Ardimulyo

Desa Ardimulyo. Secara toponimi "Ardimulyo" terdiri dari dua kata alphabetis adalah yaitu "ardi" dan "mulyo". Ardi sendiri memiliki arti "gunung (Prawiroatmojo 1988:17). Sedangkan untuk kata mulyo (mulya) memiliki arti "mulia" (Prawiroatmojo, 1988 384). Dengan demikian maka Desa Ardimulyo memiliki arti gunung yang mulia" Mengapa desa tersebut disebut atau dinamakan demikian akan kita bahasa pada uraian-uraian berikutnya. Desa Ardimulyo memiliki empat dusun (pedukuhan yaitu Dusun Karangjati, Dusin Randu Cembola Dusun Sempol dan Dusun Songsong. Menurut, keterangan Rianto (60), selaku Kepala Desa Ardimulyo.

Dusun Karangjati dinamakan demikian karena banyak tumbuh pohon pohon jati (Tecton grandis).

sedangkan Di Dusun Randu Gembolo dinamakan demikian karena banyak tubuh tanaman randu (Ceibid pentandra) (Wawancara, 11/09/2018). Perlu mendapat catatan disini bahwa kata "gembolo", setelah nama randu pada toponimi Dusun Randu Gembolo, Menurut Prawircate (1968:138) adalah nama sebangsa ubi. Ubi yang disebut dengan nama "Gembolor (Dioscorea bulbiferu, suku gadung-jadungan atau Dioscorerne) merupakan tanaman umbi-umbian yang ditanam di pekarangan. Tanaman ini semakin jarang dikenal dan hanya bisa dijumpai didesa-desa Umbi gembolo serupa dengan umbi. gembili namun berukuran lebih besar. Tumbuhan ini juga dapat menghasilkan umbi dari batang yang ada di permukaan Umbi ini disebut umbi udara atau "katibung dan dapat dimakan. Sehingga toponimi Dusun Randu Gembolo terdiri dari dua nama tumbuhan .

Sedangkan nama Dusun Sempol. juga merupakan namatumbuhan pohon. Pohon sempol (Equisetum debile), dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia -IV (Badan Penelitian dan Pengem bungan Kehutanan Departemen Kehutanan, 1987) merupakan her tahunan dengan batang yang lemas dan panjangnya mencapai beberapa meter. Di Jawa, sempol tumbuh berkelompok, bahkan kadang membentuk vegetasi tersendiri. Biasa ditemukan pada daerah beriklim sedang hingga 2500 m dpl yang menerima sinar matahari cukup dan lembab. Dikabarkan pada masa lalu batang sempol sempat diperdagangkan di Jakarta sebagai bahan obat dengan nama greges atau greges hilang, sedangkan asal produksinya kebanyakan dari Semarang Menurut catatan lain, batang sempol dapat dijadikan bahan dasar pembuatan parem untuk mengobati ngilu tulang persendian. Informasi selanjutnya mengenai sempol sangat minim (Santosa, 2017380).

Untuk toponimi Dusun Song song akan dibahas tersendiri dituwah ini. Sebagai salah satu desa tua di Kecamatan Singosari terdapat tinggalan-tinggalan arkeologis di desa tersebut, Salah satunya adalah arca Cimund. Situs Arca Ciund pertama kali dilaporkan oleh Pequin pada bulan Maret 1928, setelah berhasil disatukannya beberapa fragmen anca yang saat itu ditemukan di Ardimalaya Distrik Karanglo Malang pada tahun 1927 Lokasi situs berada sekitar 2 km di sebelah utara Candi Singosari serta berjarak 1 km dari paal 13 km jalan ke arah Malang - Surabaya. Saat pertama kali ditemukan dikompleks sebuah rumah penduduk setempat kondisi arca itu telah menjadi fragmen.

Desa Ardimulyo, seperti yang telah disebutkan diawal Ardimulyo menunjuk kepada sebuah arti "Gunung Mulia': Gunung Mulia adalah sebutan bagi sebuah kahyangan para dewa yang bernama Meru dengan puncaknya Kailasa. Replika dari sebuah kahyangan di dunia secara sosial politis adalah istana kerajaan, sementara replika sebuah Meru secara simbolis adalah bangunan candi. Hal ini dibuktikan pula oleh adanya penemuan arca yang sangat penting dari Desa Ardimulyo yang menurut Damais (1955) merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari masa Kertanägara, yaitu Arca Dewi Parwati sebagai Dewi Camundi, dewi dalam aliran Tantra (arca ini sekarang di Balai Penyelamatan Trowulan) yang pada bagian belakangnya memuat sebuah inskripsi berangka tahun 1214 Saka (1292 M, pen). Menurut Moens (1974) arca ini ditemukan dalam keadaan pecah berkeping-keping, yang merupakan bentuk pecahan yang tidak wajar. Artinya bahwa arca tersebut sengaja dihancurkan. Hal ini tentunya dapat dihubungkan dengan serangan Jayakatwang terhadap Raja Kertanagara, yang menurut Pararaton, waktu itu Raja Kertanägara bersama patihnya sedang pesta minum di istananya. Namun tindakan Kertanagara tersebut sebenarnya merupakan sebuah praktik ritual tantra, yang ia lakukan dengan pemujaan terhadap arca dewi Cămundi. Peng hancuran sarana pemujaan seperti arca Camundi tersebut di maksudkan membunuh tenaga magis mistis sang raja beserta keratonnya (Suwardono, 2013a, diakses dari www.hurahura. wordpress.com 18/01/2015:11:22 WIB).

 

arca camundi.jpg

 

Dengan demikian, maka berdasarkan temuan arkeologis yaitu berupa arca dewi Câmundi, fragmen bata merah berukuran besar dan fragmen batu-batu candi, tafsiran nama "Ardimulyo (Gunung Mulia)" yang berarti sebutan bagi sebuah kahyangan para dewa yang bernama Meru dengan puncaknya Kailasa. Replika dari sebuah kahyangan di dunia secara sosial politis adalah istana kerajaan, serta tafsiran para ahli berdasarkan dari kitab Pararaton terkait terbunuhnya Raja Kertanagara oleh serangan tak terduga dari Jayakatwang, ketika mengadakan ritual tantra bersama para patihnya di depan Arca Dewi Cāmundi, di kratonnya. Maka, dari bukti-bukti temuan arkeologis yang ada di Desa Ardimulyo itu Suwardono (2013b:227) sampai pada kesimpulan bahwa Desa Ardimulyo di masa lampau tepatnya pada masa Hindu-Buddha adalah kraton (pakuwon) Kerajaan Singhasäri pada masa Raja Kěrtanāgara. Argumen tersebut dapat dikuatkan dengan adanya sebuah dusun yang bernama Dusun "Songsong" di wilayah Desa Ardimulyo. Songsong sendiri memiliki arti "payung" (Prawiroatmojo, 1981:206). Kata "Songsong" ini diduga berasal dari bahasa Jawa Kawi yaitu "Sung-Sung". Menurut Stutterheim (1925) sung-sung merupakan salah satu dari Mangilala Drwya Haji 2 yaitu Juru Sungsung yaitu orang yang harus

menjemput atau memanggil seseorang (Yogi, 1996:61) Besar kemungkinan tugas utama dari para Juru Sungsung ini adalah sebagai abdi dalem kerajaan yang bertugas untuk menjemput (menyongsong) dan memayungi raja serta mendampinginya. Hal ini juga dikuatkan oleh pendapat Tim Hari Jadi Kabupaten Malang (1984:22) bahwa terdapat abdi dalem yang bertugas sebagai penyongsong (mapayunan). Maka, dapat ditafsirkan bahwa Dusun Songsong dimasa lalu adalah kompleks dari para Juru Sungsung Kerajaan Singhasări. Dengan demikian, Desa Ardimulyo pada masa Hindu-Buddha merupakan desa penting sebagai pusat pemerintahan dari Kerajaan Singhasări akhir. Tinggalan arkeologis tampaknya juga menguatkan identifikasi ini. Menurut Rianto (60), Dusun Songsong dulu terdapat peninggalan payung-payung yang berasal dari raja-raja. Maka dari itu dinamakan "Songsong". Untuk saat ini, payung-payung tersebut sudah dipindahkan ke Museum Trowulan yang berada di Jalan Pendopo Agung, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto (Wawancara, 11/09/2018).

makam mbah krendo.jpg

 

Di desa ini juga terdapat peninggalan punden/pasarean masa Islam, bernama Ki Ageng Krendo. Menurut penuturan dari Bapak Rianto (60), Kepala Desa dari Desa Ardimulyo dan yang dikuatkan seorang warga penjual dari bahan-bahan bangunan, menjelaskan bahwasanya Mbah Ki Ageng Krendo merupakan seseorang yang memulai babat alas (seseorang yang membuka desa untuk pertama kalinya) di Desa Ardimulyo (wawancara, 11/09/2018). Perlu diketahui jika Mbah Ki Ageng Krendo masih memiliki darah keturunan dari Orang Arab, jadi tidak heran jika badannya tinggi besar, berambut panjang dan berhidung mancung. Meskipun masih memiliki darah Orang Arab, tetapi Mbah Ki Ageng Krendo tidak ingin membeda-bedakan dirinya dengan rakyat jelata, karena Beliau sendiri masih memiliki ikatan kekerabatan dengan Penguasa Kerajaan Mataram. Ketika Desa Ardimulyo menjadi kekuasaan dari Pihak Kompeni, Mbah Ki Ageng Krendo para pengikut setianya melakukan bentuk perlawanan karena memprotes tindakan Kompeni yang melakukan kesewenang-wenangan terhadap rakyat.

 

Berita Lain